Teori psikoanalisis Jacques Lacan “Jacques Lacan: Yang Nyata, Yang Imajiner, dan Tatanan Simbolik”

0

Oleh : Fitri Sagita Mawaddah1, Nadira Aulia2, Juanda3

Universitas Samawa, Sumbawa Besar, Indonesia

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teori Jacques Lacan yang nyata, yang imajiner, dan tatanan simbolik. Ada tiga konsep dalam inti pemikiran lacan: yang imaginer, yang simbolik, serta yang nyata. Ketiga kata itu secara gamblang bukan sesi yang terbatas semacam yang di informasikan Bowie( 1991: 91), kekuatan mental. Yang imajiner ialah kala orang sebgai perihal yang merata serta subjek yang lengkap. Artinya sesuatu ranah kala ego rasional tumbuh lewat identifikasi dengan totalitas citraan supaya orang merasa mengitarinya. Tatanan simbolik ialah struktur supra- personal dari determinasi yang telah terdapat lebih dahulu serta ialah ruang budaya serta bahasa. Kita lahir didalamnya serta diberikan nama dan menggambarkan apa ras, tipe kelamin, kelas, serta jenis yang lain. Pada yang imajiner ego didefinisikan lewat identifikasi mereka. Sebaliknya pada simbolik subjek didefinisikan.

Is Sadik Hadzovic on steroids? We found out the truth – All about an active and healthy lifestyle, fitness, diets, workouts and weight loss methods winstrol for sale online gym and fitness equipment gym equipment | bh fitness buy on our online store

 

Kata-kata Kunci : Psikoanalisis,  Jacques Lacan,  Pemikiran

 

ABSTRACK

This study aims to determine Jacques Lacan’s theory of the real, the imaginary, and the symbolic order. There are three concepts at the heart of Lacan’s thinking: the imaginary, the symbolic, and the real. The three words are clearly not session-limited as Bowie (1991: 91) suggests, mental strength. What is imaginary is when people are equal and complete subjects. It means something is the realm where the rational ego grows through identification with the totality of the image so that people feel around it. The symbolic order is a suprapersonal structure of pre-existing determination and is a cultural and linguistic space. We are born in it and are given names and describe what race, gender, class, and other types are. In the imaginary the ego is defined by their identification. In contrast to the symbolic the subject is defined.

 

Keywords : Psychoanalysis, Jacques Lacan, Thought

 

PENDAHULUAN

Psikoanalisis adalah salah satu sekolah besar dalam sejarah ilmu pengetahuan manusia. Seperti aliran besar lainnya seperti Marxisme, psikoanalisis telah merambah ke berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti sastra, sosiologi, filsafat dan seni. Psikoanalisis awal awalnya identik dengan nama pendirinya Sigmund Freud, sehingga penggunaan istilah psikoanalisis dan psikoanalisis Freud awalnya memiliki arti yang sama. Selain itu, beberapa murid Freud meninggalkan ajaran gurunya dan memilih meninggalkan istilah psikoanalisis, seperti Carl Gustav Jung yang memilih menggunakan nama Psikologi Analitik dan Aljazair yang menggunakan istilah Psikologi Individual Fred Adler. Konsisten dengan penerimaan psikoanalisis yang meluas di berbagai bidang ilmu pengetahuan, istilah tersebut tidak hanya identik dengan Freud sebagai pendirinya.

Jacques Lacan lahir di Paris, pada bersamaan pada 13 April 1901 dan meninggal dunia 9 September 1981. Jacques Lacan adalah anak sulung dari Emilie dan Alfred Lacan yang memiliki 3 anak. Lacan ialah seorang psikoanalis dan psikiatris Perancis yang memiliki peran sangat besar didalam  pemikiran filsafat, psikoanalisis dan kepustakaan teoritis. Lacan secara tertib memberikan seminar di Perancis dari tahun 1953 hingga 1981, hingga memiliki pengaruh yang begitu besar di kalangan intelektual Perancis disaat itu, sangat utama buat pemikiran filsafat aliran post- strukturalis. Pemikiran Jacques Lacan dipengaruhi oleh sebagian ilmuan dari berbagai bidang ilmu sosial. Antara lain Sigmund Freud yang mengambil pengaruh dari psikoanalisa, Martin Heidegger yang mengambil pengaruh dalam bidang filsafat, Claude Levi- Strauss yang mengambil pengaruh dari Linguistik Struktural dan antropologi, Jacques Derrida yang mengikuti pengaruh dari filsafat dan linguistik strukturalis, serta Saussure yang mengikuti pengaruh dari Strukturalis dan linguistik.

Penemuan Freud hendak hasrat( ketidaksadaran) meruntuhkan pemikiran rasionalisme Barat yang gagal mendefenisikan ketaksadaran. Mengenai ini diakibatkan sikap tidak peduli( indifferent) atas hasrat yang diidap oleh para rasionalis sejak Yunani Kuno. Diri dipercayai dikonstruksi oleh rasio/ ilham, kehendak/ hasrat, dan ruh/ jiwa. Hendak tetapi para golongan rasionalisme Barat lebih mengagung- agungkan rasio/ ilham sebagai konstruksi diri dan hasrat cenderung diabaikan seragam anak tiri. Hasrat hanya sebagaientitas“ pernak- pernik” buat keutuhan rasio.

 

Freud mengkaji sebuah hasrat pada ketidaksadaran lalu menghasilkan hasrat primordial, disruptif, instingtual, dan irasional. Penemuan Freud ini, pada satu sisi, dapat dilihat sebagai sebuah usaha yang sangat eksploratif dan revolusioner, namun di sisi yang lainnya bersifat reduktif. Freud menyempitkan hasrat hanya sebagai tenaga libidinal maupun seksual. Sifat liar dari hasrat ini dilihat sebagai isi ketidaksadaran yang mesti“ dipotong” arus pertumbuhannya karena dikira bisa membahayakan otoritas Ego. Dari asumsinya ini sampai Freud menyangka jika manusia harus mengebiri hasratnya biar dapat masuk dalam wilayah sosial. Manusia yang tidak dapat memfilterisasi hasratnya yg liar, irasional, ialah manusia yang neorosis maupun psikosis. Psikoanalisis Freud ialah tempat rehabilitasi buat manusia- manusia neorosis maupun psikosis.

Salah seorang neofreudian Prancis yakni Lacan menolak egosebagai sumber kekuatan psikologis. Menurutnya ego tidak bisa membedakan hasratnya dan hasrat yang dimiliki orang lain serta lebih cenderung kehilangan dirinya dalam samudra objek- objek. Buat Lacan, pembuatan ego yang dini maupun ego primordial ialah terjalin pada tahap cermin. Ditahap ini anak mulai mengidentifikasi diri pada citraannya yang berada di cermin. Dorongan anak mempersepsikan citraan di cermin sebagai dirinya yakni hasratnya buat memiliki fakta diri. Momen ini hendak senantiasa bekerja dalam rentang hidup manusia. Manusia memiliki dimensi imajiner dalam hidup psikis- nya, yakni kecenderungan buat mengidentifikasikan diri dengan diri- diri sempurna. Lacan mengatakan jika apa yang menggerakan kehidupan manusia ialah hasrat. Manusia sejak dilahirkan hingga melepaskan diri dari kesatuan- kesatuan eksistensial dalam dunia Real tetap hadapi kekurangan- kekurangan( lack), manusia dikira selamanya berlubang. Rasa kekurangan yang selamanya akan mengikut seperti hantu yang akan menggentayangi kehidupan manusia. Sedangkan itu kesatuan eksistensial( dalam dunia Real) itu tidak hendak pernah hadapi kembali. Perasaan yang terpendam di alam ketidaksadaran melahirkan sebuah hasrat yang tidak akan pernah habis terpuaskan. Ada 2 bentuk hasrat yang senantiasa hadapi ketegangan dari rasa kekurangan eksistensial tersebut, yakni hasrat inginmemiliki( fakta diri) dan hasrat ingin jadi. Hasrat yang ingin bekerja di ranah pengalaman Imajiner dan Simbolik. ranah pengalaman yang bagikan rasa keutuhan pada kekurangan primordial yang tetap membayangi subjek. Hasrat buat jadi bekerja pada ranah pengalaman Yang Real, praideologis dan non makna. Ia ialah keahlian resistensi yang tetap mengganjal hasrat buat memiliki dalam menunaikan hajatnya.

 

PEMBAHASAN

Ilmu sosial telah menginterpretasikan dan mengenakan ilham dari Freud melalui 3 tata cara yakni: kesatu, teori dorongan hasrat dari Freud sebagai representasi tingkatan insting biar masyarakat berupaya memuaskan maupun sekurang- kurangnya mengakuinya. Namun Lacan menolak interprestasi dari Freud ini. Baginya ialah sesuatu fantasi buat memahami hasrat semacam biologi dan sesuatu mimpi dari fakta diri dikala saat sebelum budaya dan bahasa. Kedua, Freud menerangkan perlunya tatanan sosial yang memantapkan ego. Lacan pula menolak Mengenai itu. Menurutnya Freud keliru mempercayai penilaian yang kelewatan pada Barat yang rasional, diri yang merdeka. Setelah itu ia memperkenalkan teori buat memperbaiki interprestasi dari Freud ialah menekankan berartinya non rasional. Ketiga walaupun sosiolog memandang internalisasi sebagai penyatuan langsung nilai budaya kedalam orang. Freud menarangkan sesuatu proses yang sangat mendua, artinya ineternalisasi buat menolak kekerasa nilai- nilai sosial karena penerima pasif. Lacan menerima Mengenai ini, dia memandang proses internalisasi budaya lebih rumit daripada yang dipaparkan Freud.

 

3 konsep tersebut terdapat dalam inti pemikiran lacan: yang imaginer, yang simbolik, dan yang nyata. Ketiga kata itu secara gamblang bukan tahap yang terbatas semacam yang di informasikan Bowie( 1991: 91), kekuatan mental. Lacan percaya jika language hanya gambaran domain yang simbolik. Pembuatan diri subjektivitas manusia hanya bisa dimengerti sebagai jalinan diantara 3 tatanan. Yang imajiner yakni kala orang sebgai Mengenai yang menyeluruh dan subjek yang lengkap. Maksudnya suatu ranah kala ego rasional berkembang melalui identifikasi dengan keseluruhan citraan biar orang merasa mengitarinya. Tatanan simbolik yakni struktur supra- personal dari determinasi yang sudah ada lebih dulu dan yakni ruang budaya dan bahasa. Kita lahir didalamnya dan diberikan nama serta menggambarkan apa ras, jenis kelamin, kelas, dan tipe yang lain. Pada yang imajiner ego didefinisikan melalui identifikasi mereka. Kebalikannya pada simbolik subjek didefinisikan melalui individualitasnya sampai pada perbandingan mereka dari yang lain terlebih dari mereka sendiri. Ekspresi makro yakni yakni intersubjektif daripada subjektif yang terletak di bawah kontrol.

Yang nyata membangun jalinan yang imaginer dan yang simbolik dalam Mengenai ini tidak ada paksaan yang imajiner mencari ekspresi yang simbolik mengenakan imajiner. Teori Lacan jika jalinan antara subjek dengan tatanan sosial ialah jalinan yang traumatis penempatan ke dalam tatanan sosial dan simbolik mengintrodusir kemustahilan kedalam pusat subjektivitas dan melemparkannya subjek keluar dari pusat dengan jalinan diri sendiri yakni identifikasi imajiner yang mustahil. Buat lebih mudah memahami teori ini, oleh Lacan dipertemukan dengan konsep kebutuhan( need), permintaan( demand), dan hasrat( desire).

 

  1. Yang Nyata( the Real) Kebutuhan( need) secara sederhana dapat diartikan sebagai kebutuhan secara fisiologis maupun dalam makna lain sebagai kebutuhan fisiologis yang dapat tercukupi. Pada bayi manusia, kebutuhan- kebutuhan fisiologis, melalui peran orang- orang terdekat sangat utama bunda hendak senantiasa dapat tercukupi dengan mudah: disaat lapar bayi memperoleh ASI, kala membutuhkan kehangatan bayi menciptakan pelukan, dll. Artinya bayi tetap merasakan sesuatu yang penuh, utuh maupun tanpa kekurangan, kehilangan dan kekosongan. Pada fase ini bayi belum menguasai bahasa dan belum dapat membedakan antara diri dengan yang liyan( yang lain): bayi masih merasakan jika dirinya dan seluruh yang liyan yakni satu kesatuan. Fase kebutuhan( need) ini berdiam dalam Yang Nyata yang yakni” fase dikala saat sebelum benak”.

 

  1. Yang Imajiner( the Imaginary) Kala bayi mulai dapat membedakan dirinya dengan yang tidak cuma dirinya meski pada fase dini ini bayi tetaplah belum memiliki konsep tentang yang liyan secara keseluruhan; bayi belum memiliki sebuah kemampuan berupa membedakan secara biner antara dirinya dan liyan, dan bayi sudah mulai memasuki tahapan baru, yaitu permintaan( demand). Permintaan ialah sesuatu yang tidak dapat maupun tidak dapat jadi terpenuhi. Semacam hal itu merupakan esensi utama dari permintaan; kembali pada keseluruhan. Mengenai tersebut tentulah mustahil, karena lama- lama keliyanan terus jadi menunjukkan diri dihadapan sang bayi. Bayi akhirnya memulai fase Yang Imajiner. Dalam Yang Imajiner terjalin fase cermin( the mirror stage). Bayi suatu kala hendak memandang bayangan dirinya dalam cermin. Bayangan tersebut, oleh bayi, dikonfrontir dengan keberadaan yang lain semacam bunda maupun penjaga yang lain. Bayi hendak memandang citra dalam cermin sehabis itu memandang ke arah yang lain. Disaat semacam itu bayi mulai menyadari jika dirinya ialah eksis dan terpisah dari yang lain, terlebih bunda. Semacam itu Individuasi. Namun bayi mengira dirinya yang terletak dalam cermin ialah betul- betul dirinya. Citra tersebutlah yang akhirnya diakui sebagai” aku” maupun ego. Jadi, ego terbentuk akibat kesalahan mempersepsi sebuah citra cerminal sebagai aku. Citra tersebut dalam bahasa psikoanalisa diucap sebagai ego sempurna. Sebagai citra cerminal, ego sempurna tidak hendak pernah cocok dengan keadaan orang yang sebetulnya. Ego tidak lain ialah konsep imajiner tentang diri yang utuh, sempurna, non kekurangan dan tanpa keyakinan adanya kekurangan di dalamnya. Ego maupun aku tersebut hendak jadi tetap” liyan”, tidak setara dengan terlebih bukan aku yang sebetulnya. Pembuatan citra yang salah pada fase cermin yakni alieniasi. Alieniasi dalam konsep Lacan tetap mengaitkan 2 arus berbeda, bayi dan liyan. Bayi ialah yang tetap kalah. Alienasi dini bayi manusia ialah kala terjalin kesalahan mempersepsi diri yang menempatkannya sebagai yang liyan buat dirinya sendiri.

 

  1. Yang Simbolik( the Symbolic) Kala bayi terus jadi dapat melakukan pembedaan dan proyeksi ide- ilham tentang keliyanan, tataran Yang Simbolik dimulai. Bersamaan dengan itu terjadilah akuisisi bahasa. Yang Simbolik ialah keberadaan” aku” dalam struktur bahasa. Keadaan dimana aku dinyatakan melalui bahasa. Hanya saja kehadiran antara Yang Imajiner dan Yang Simbolik tidak ada batas yang jelas. Keduanya silih tumpang tindih. Di dalam tataran inilah hasrat( desire) berdiam. Untuk Lacan manusia tetap terletak dalam kondisi lack/ berkekurangan, dan hanya hasrat yang dapat memenuhi kekurangan( lackness) tersebut. Hasrat( desire) pada dasarnya yakni keinginan hendak kepemilikan fakta diri. Pada tataran simbolik bayi berkeinginan buat memiliki fakta diri lengkap yang diucap” aku”. Kala masuk ke dalam dunia bahasa, bayi, mau tidak mau harus tunduk pada syarat sistem penandaan di ruang bahasa. Tetapi, sesuatu penanda tidak serta merta menunjuk petanda tertentu, melainkan penanda yang lain. Penanda” bunda” tidak semata menunjukkan adanya bunda- selaku petanda- melainkan secara berbeda menunjuk adanya yang lain. Hasilnya, fakta diri hanyalah kesemuan yang disebabkan adanya akibat penandaan; fakta diri ialah karya penandan. Mengenai kekurangan( lack), secara eksistensial manusia diatur oleh berbagai rasa kehilangan dan kekurangan. Kehidupan manusia bagai ajang pencarian pemenuhan hendak sesuatu yang kurang. Kekurangan dalam makna yang eksistensial ini tentu tidak hendak pernah jadi penuh maupun dapat terpenuhi. Lacan menegaskan jika tidak dapat jadi kembali pada Yang Nyata. Mengenai ini sangatlah wajar dengan mengingat sumber rasa kekurangan pada manusia. Sumber kekurangan ialah kehilangan” kepenuhan” dalam tataran Yang Real, sebaliknya didalamnya tidak berdiam bahasa yang dapat jadi digunakan buat mengenali kepenuhan tersebut. Bahasa yang mencuat setelahnya, tidak dapat menjangkau ruang Yang Real, sehingga manusia dengan bahasa semacam mengejar” kepenuhan” yang tidak dikenali sama sekali.

KESIMPULAN

Ada tiga konsep dalam inti pemikiran lacan: yang imaginer, yang simbolik, serta yang nyata. Ketiga kata itu secara gamblang bukan sesi yang terbatas semacam yang di informasikan Bowie( 1991: 91), kekuatan mental. Yang imajiner ialah kala orang sebgai perihal yang merata serta subjek yang lengkap. Artinya sesuatu ranah kala ego rasional tumbuh lewat identifikasi dengan totalitas citraan supaya orang merasa mengitarinya. Tatanan simbolik ialah struktur supra- personal dari determinasi yang telah terdapat lebih dahulu serta ialah ruang budaya serta bahasa. Kita lahir didalamnya serta diberikan nama dan menggambarkan apa ras, tipe kelamin, kelas, serta jenis yang lain. Pada yang imajiner ego didefinisikan lewat identifikasi mereka. Sebaliknya pada simbolik subjek didefinisikan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Darmanto, Rida. 2011. Kajian Hasrat Dalam Dua Novel ASIA: Sebuah Analisis Psikoanalisis Lacan.

Grenz, Stanley J. 2001. A Priemer on Postmodernism. Yogyakarta: Yayasan Andi

Ritzer, George.2003.Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana

 

About The Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *